Memantik Matahari
Dari dekat kaulihat matahari
berlari dari dada tiap anak manusia
nyalanya membakar setiap kota
dan saudagar negara asing datang
Mereka tawarkan seribu kenyamanan
di tanah dan air yang telah berubah
desadesa menjadi cluster dan jembatan
lalu matahari kembali bersembunyi
Di tanah air tempat kita lahir
kita diharuskan membeli secuil tanah,
setitik air dengan uang dan seluruh usia
dan matahari membeku dalam tungku
Suatu saat anak anak setelah kita
mendapati tulang belulang saudara mereka
menjadi gunung dan sampah masa silam
maka sebelum itu pantiklah matahari lagi
Bangunlah dan jagalah matahari
dalam dada kita hingga saatnya
padam dan kita sendiri
kembali pulang.
Haridjogja
2nov2011




Semoga Sang Pemuda dapat menuai sukses lewat syair dan puisi
dan
semua tulisannya menjadi lentera bagi dunia..
amin
amin dan terimakasih doanya
bangunlah dan jagalah matahari.
nice poem!!
salam kenal…
salam kenal juga Nizwa
berkunjung sob..salam blogger
sukses selalu yah..:)
makasih mas, salam sukses juga yah
Thank you for sharing. Not to many people in your position are so gracious. Your article was very poignant and understandable. It helped me to understand very clearly. Thank you for your help.
thanks for visit my blog here
menjaga matahari
di dalam dada
duh
betapa aku
suka membacanya
selamat berkarya mas.
tulisan2 yang penuh warna.
semoga menginspirasi banyak pembaca.
salam.
terimakasih kang… semoga doa ini bisa terwujud