Api Abadi -sebuah ulasan #1

Kemiskinan warga kota adalah sebuah ladang usaha bagi mereka yang berkuasa, bisa jadi penggemuk periuk nasi dengan alih alih tender pemberdayaan manusia.
Ketika isu bergolak tentang beratnya beban jakarta dengan polusi dan kerusakan lingkungan, berduyunlah para oknum oknum belajar sulap bikin tender, pamflet dan ribuan spanduk berjumlah ratusan, tentunya dengan harga yang tak wajar.
Penuhi kota ini dengan himbauan dan di masa mendatang hanya menjadi sampah pendukung yang masih menempel di tiang tiang listrik dan tembok tembok rumah warga, seperti mengatasi sampah dengan sampah.

Ditambah jumlah urbanisasi yang melewati ambang batas normal, yang jika saya tarik garis lurus dari tempat mereka berasal memberikan satu jawaban:
di tempat lahir mereka tak dirasakan pemerataan dalam berbagai aspek
jalan terjal tak diaspal, listrik yang kedap kedip sering mati, kemajuan tehnologi yang tak jarang dibayar dengan harga mahal membuat mereka terbawa isyu bahwa kota besar lebih menjajikan.

Tapi apa lacur mereka cuma menjadi bisul atau cacar yang menumpang dirumah kawan atau paling tidak dapat pekerjaan dengan gaji pas passan, dan yang parah mereka menggelandang dan jadi tunawisma, preman, pengemis, orang gila dan yang terjebak di sepanjang rel kereta dan bantaran kali.

Rasa sosial yang menipis seiring waktu membunuh solidaritas pada sesama dan lingkungan, memalak, berkelahi, hingga membuang sampah sembarangan, ditambah pemerintah yang seenaknya menggusur mereka, membakar lapak mereka menuduh mereka sebagai penjahat dan penduduk liar tanpa memberikan solusi yang mumpuni, malah menyalakan api dendam makin membara disulut ketidak adilan.

Lalu bagaimana dengan pertanyaan lain dan ide ide yang mampat di meja makan dan yang masih belum terpetakan, makin terus menggembung jadi balon gas yang sewaktu waktu dapat memicu ledakan sosial?

Mungkin tanya ini hanya berbalas tanya bahkan berbalas ejekan atau tuduhan, setidaknya inilah yang sering muncul dari beberapa pihak yang merasa.
Rasa kebersamaan yang sehat mati mendadak di kota ini, lingkungan semakin parah dan hati semakin tak berfungsi seperti diciptakan saat awal pertama.

Semoga renunganku ini tidak berlebihan dan hiperbolis,
salam
hari
25 mei 2010

Cerita Rantau

Jakarta seperti menyekap realita, hidup di sini
ribuan mimpi yang bergantung di lampu merkuri
cahaya matahari terpantul di kaca kaca gedung tinggi
manusia manusia jadi silau, berlomba tuk saling mangsa

berapa banyak kejahatan dan kebinalan bersarang di dada
aku tak tahu, sungguh akupun tak terpikir angka
seperti debu di padang gurun, berkembang biak penuhi telingamu

mata sayu sembunyi di balik cermin, apa katamu
titis titis airmata hanyut terbawa arus sungai, membelah kota
menyapa rumah rumah kardus, mata mata mayat mengerjap

Jakarta gemar menyekap realita, hidup tak hidup
ribuan mimpi digantung lampu merkuri

hari
25mar2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s