Urban, Sampah, Korupsi!

Kemiskinan warga kota adalah sebuah ladang usaha bagi mereka yang berkuasa, bisa jadi penggemuk periuk nasi dengan alih alih tender pemberdayaan manusia.
Ketika isu bergolak tentang beratnya beban jakarta dengan polusi dan kerusakan lingkungan, berduyunlah para oknum oknum belajar sulap bikin tender, pamflet dan ribuan spanduk berjumlah ratusan, tentunya dengan harga yang tak wajar.
Penuhi kota ini dengan himbauan dan di masa mendatang hanya menjadi ‘sampah pendukung’ yang masih menempel di tiang tiang listrik dan tembok tembok rumah warga, seperti mengatasi sampah dengan sampah.

Ditambah jumlah urbanisasi yang melewati ambang batas normal, yang jika saya tarik garis lurus dari tempat mereka berasal memberikan satu jawaban:
di tempat lahir mereka tak dirasakan pemerataan dalam berbagai aspek
jalan terjal tak diaspal, listrik yang kedap kedip sering mati, kemajuan tehnologi yang tak jarang dibayar dengan harga mahal membuat mereka terbawa isyu bahwa kota besar lebih menjajikan.

Tapi apa lacur mereka cuma menjadi bisul atau cacar yang menumpang di rumah kawan atau paling tidak dapat pekerjaan dengan gaji pas passan, dan yang parah mereka menggelandang dan jadi tunawisma, preman, pengemis, orang gila dan yang terjebak di sepanjang rel kereta dan bantaran kali.

Rasa sosial yang menipis seiring waktu membunuh solidaritas pada sesama dan lingkungan, memalak, berkelahi, hingga membuang sampah sembarangan, ditambah pemerintah yang seenaknya menggusur mereka, membakar lapak mereka menuduh mereka sebagai penjahat dan penduduk liar tanpa memberikan solusi yang mumpuni, malah menyalakan api dendam makin membara disulut ketidak adilan.

Lalu bagaimana dengan pertanyaan lain dan ide ide yang mampat di meja makan dan yang masih belum terpetakan, makin terus menggembung jadi balon gas yang sewaktu waktu dapat memicu ledakan sosial?

Mungkin tanya ini hanya berbalas tanya bahkan berbalas ejekan atau tuduhan, setidaknya inilah yang sering muncul dari beberapa pihak yang merasa.
Rasa kebersamaan yang sehat mati mendadak di kota ini, lingkungan semakin parah dan hati semakin tak berfungsi seperti diciptakan saat awal pertama.

Di Jakarta ini telah lama aku perhatikan satu masalah kecil yang sebenarnya besar, yaitu ketika kita membuang satu batang rokok atau bungkus permen ke jalan raya atau sungai.
Kadangkala kita berpikir ah itu hanya satu sampah kecil, tapi apa yang akan anda katakan jika satu orang masing masing punya pikiran seperti itu pada garis lurus yang jarang kita pikirkan itu juga akan memicu korupsi!

Ibu Kota Api

ibukota api, mukanya kumpulan abu, mayat
berjalan tanpa doa mencari mati kedua
di pangkal paha dan belahan dada, gemerlap

luka luka ditumpuk dalam lapak, digilas
lalu dibakar

tangis lari kemana, jari menunjuk angkasa
awan hitam cerobong industri, polusi

bermuara di sungai sungai mimpi
kencing para raja

hari
13mar2010

One thought on “Urban, Sampah, Korupsi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s