Menjadi Kreatif Dengan Kritik Puisi -puisi atau prosa-

Jika menulis puisi hanya untuk tujuan komersial maka tak akan pernah anda menjadi seorang penulis yang hebat, walau penulis hebatpun nantinya bisa kaya raya namun saya rasa itu bukan hanya dari menulis belaka.
Lalu apa kriteria atau bahan bahan untuk menjadi kreatif dalam berpuisi?

Puisi adalah seni bahasa, cara yang paling ampuh dan kuat dalam mengekpresikan diri kita sendiri dalam bentuk kata-kata, dan prosa menggunakan tatanan atau bahasa yang sudah jadi-umumnya mengingat kehidupan yang semakin sibuk dan menuntut banyak waktu-.
Tapi puisi menuntut kedalaman yang lebih daripada prosa yang dalam pembentukanya penyair membutuhkan banyak fokus dan pendalaman dan pandangan dari berbagai sudut dan setiap kalimatnya memiliki arti tersendiri lebih tepat dan tidak terkontaminasi, dalam puisi banyak menggunakan ketepatan tema, konotasi bahasa, sejarah dan mungkin juga penyalahgunaan yang disengaja.

Penulis puisi biasa membayangkan gambar, perasaan, kedalaman yang teramat gelap dan permukaan yang berkilauan, sifat yang sangat luar biasa tanpa akhir tanpa jeda dan kadang tidak bisa dinalar meski dengan bahasa yang simpel dan mudah dibaca dalam tekstual namun kedalaman makna yang tak tehingga, seperti ada bahasa tersendiri bagi penyair dan puisinya.

Puisi dimulai dengan frasa yang asing dan tak tersentuh dan tak sulit memang jika hanya menggabungkan beberapa kata dalam suatu teks yang mirip puisi secara tekstual dan membuat pikiran pembaca menjadi liar dalam berimajinasi menjadikanya seperti sebuah novel atau tulisan para jurnalis.
Mungkin terkesan diskriminasi tulisan yah🙂, tapi tanpa kerja keras sebuah puisi tak akan pernah lahir, membutuhkan karakter yang kuat dan keinginan.

Puisi juga merupakan kritik diri atau bisa juga kritik sosial dan politik atau religiusme dan bukankah kritik juga yang sanggup membangun kedahsyatan seorang penulis itu sendiri?
Belajar untuk peka terhadapa kehidupan sekitar mereka dan diri sendiri evaluasi dan pada umumnya kegagalan puisi dan penyairnya adalah mereka kurang peka hingga stag pada tahap pengorekan kepedihan diri sendiri yang berkelanjutan, dan yang membuat penerbit mungkin enggan menerbitkan karya puisi di Indonesia ini, walau bukan satu satunya jalan sebagai pembuktian bahwa puisi itu berhasil atau tidak namun bagi pemula biasanya berpikir bahwa karya mereka diterbitkan sebagai pembuktian bahwa mereka adalah penyair atau seniman.

Lalu teori sastra yang mengatakan puisi adalah medium padat dan kompak bisa dimasukan kemana saja, ini merupakan seni tersendiri an tak melayani ego pribadi yang sangat praktis dan remeh.
Mungkin kita harus menjawab pada diri sendiri apa tujuan kita menulis puisi jika bukan untuk melayani orang lain.

Hari
salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s