Dalam skenario garuda-sajak oleh harijogja

dalam skenario garuda *foto – 3.bp.blogspot.com

kita bukan budak siapa siapa

meski kita dikuasai oleh siapa saja
negeri penguasa, dan kita bertanya
pada siapa harus menghamba?
 
pada tuhan atau pada manusia
pada keyakinan atau pada kenyataan
meski kita mencoba membaca jawaban
tak ayal tiada apapun menjelma
 
kita bukan budak siapa saja
namun kita rela menghamba
pada waktu yang membawa nama
segala tuhan dan penguasa
 
 
—–x——-

 

Buku Puisiku telah terbit siap dipesan

Antologi Puisi ‘Bertanya Dengan Waktu’
Hari Djogja & Gus War

Berisi puisi-puisi bertema religi dan nasional dengan balutan romansa serta adat dan budaya yang coba mereka junjung dan mereka terobos dengan cara mereka sendiri.

Jika anda berminat silahkan kontak via inbox atau
sms-tel 085 655 910 598 (hari djogja),

Harga- 25.000 (belum ongkos kirim – menyesuaikan daerah)
Pembayaran – transfer ke rek Mandiri yang akan diberitahukan setelah ada deal email dan sms/telp.

Sebelumnya terimakasih dan mohon maaf jika ada salah-salah kata

salam
Rahayu

Dua Belas Tiga Puluh

12.30

sajak oleh harijogja

gambar diambil dari flickr.com

kematian menurutnya tiada sempurna
sama ketika bercinta sebelum subuh
kami cuma berani menreka
walau tak perlu kata
 
lalu tinggalkan aku sendirian
merenungi wangi tubuhku
hingga cahya matahari menerpa

menurutnya juga kematian tak beralasan
sama seperti cintaku padanya
dari dulu hingga sekarang
tetap tak perlu alasan
 
dan setiap malam aku bersamanya
merenungi kesepianku kala siang
dimana jarak memisahkan
diburu cahaya

dan jelas kami tau
kematian tak bercumbu
walau sering kami temukan
maut dalam setiap desahan

haridjogja
14mar2012

Sungguh {sajak oleh Haridjogja}

Satuhunipun

Djeng Sinuhun Gusti Pengeran

Sakmenika dateng kula lan lading
Tekan tibaning bagas
Lan wulan ndadari

Menapa Djeng Sinuhun taksih mirengaken
Menapa kula ingkang karungket impen

Djeng Sinuhun Gusti Pengeran

Kula lan ladingipun
lan bagas,
wulan

kairisiris
mboten saget
kaetung

ngilang kalingkalingan
gumebyaring lintang
kang sinawang

Saestu

Haridjogja
22okt2011

sajak Oleh Haridjogja : Alamat pisau

aii

orangorang telanjangi bumi

sejak tanah tak lagi basah

oleh sungai dan hujan,

dan semua terlihat palsu

nabi-nabi, tuhan-tuhan bahkan

pohon pohon merujuk satu tempat

yang tak pernah orang-orang inginkan

mengecup hening

mengecup kening

pohonpohon

nabinabi

tuhantuhan

segala tak pasti

a

a

a

h

h

h

kemana

semua

pergi

harijogja

…. … …