Dalam skenario garuda-sajak oleh harijogja

dalam skenario garuda *foto – 3.bp.blogspot.com

kita bukan budak siapa siapa

meski kita dikuasai oleh siapa saja
negeri penguasa, dan kita bertanya
pada siapa harus menghamba?
 
pada tuhan atau pada manusia
pada keyakinan atau pada kenyataan
meski kita mencoba membaca jawaban
tak ayal tiada apapun menjelma
 
kita bukan budak siapa saja
namun kita rela menghamba
pada waktu yang membawa nama
segala tuhan dan penguasa
 
 
—–x——-

 

Advertisements

Buku Puisiku telah terbit siap dipesan

Antologi Puisi ‘Bertanya Dengan Waktu’
Hari Djogja & Gus War

Berisi puisi-puisi bertema religi dan nasional dengan balutan romansa serta adat dan budaya yang coba mereka junjung dan mereka terobos dengan cara mereka sendiri.

Jika anda berminat silahkan kontak via inbox atau
sms-tel 085 655 910 598 (hari djogja),

Harga- 25.000 (belum ongkos kirim – menyesuaikan daerah)
Pembayaran – transfer ke rek Mandiri yang akan diberitahukan setelah ada deal email dan sms/telp.

Sebelumnya terimakasih dan mohon maaf jika ada salah-salah kata

salam
Rahayu

Suatu Ketika -sajak oleh haridjogja-

Suatu Ketika .29.feb.2012

Tika orangorang mulai berkemas

dan hidup seolah terjamin dengan kata kata

sedang hati terus terpenjara dalam labirin politik

 

semuanya tak lebih sekedar hitam dan berliku

tubuh dan bayang bayang tak dapat lagi dibedakan

meski langit diatas sana tetap seputih kapas asli

 

dan dari rimbunan ilalang tempat bayibayi diikat erat

perlahan remuk terjerat akar pohonan

ibuibu memeras air susunya, airmatanya berpijar merah menyala

…. ….

hd

sajak oleh harijogja Melihat Pagi Menatap Matahari

Melihat Pagi Menatap Matahari

Pagi ini aku melihat
matahari lagi berenang dilautan awan
tersesat dimega mega hitam

tambah badai mengguncang
air berubah mencadi pecahan cermin
masing masing wajah bersemangat
menatap kumpulan gambar terpantul

anak anak sekolah dibawah jembatan
anak anak kurus menanak nasi

pecahan pecahan cermin dengan gambar
menikam daging menyobek urat nadi
anak anak sekolah menjadi jembatan
anak anak kurus mati kelaparan

Pagi ini aku tersesat
matahari tersesat dilautan awan
mega bergulung pelan

haridjogja

— — —

untiteld puisi oleh haridjogja

-untiteld-

tiba-tiba mereka sadar luka
yang mereka katakan ternyata tidak ada
satu persatu tumbang bernyawa

para pemimpin menjadi gila,
rakyatnya makin nestapa

setan dan hawa nafsu berlomba menjaring manusia
matahari lupa pada tempatnya
manusia sulit mengingat nama dan pura-pura buta

hanya manusia yang menyalakan doa dalam dada
bisa selamat dari mara bahaya, meski luka sekujur raga
tersudut dalam rumahnya meraih raih cakrawala

hore!
bulan purnama sebentar lagi tiba,
selanjutnya malam tak bercahaya

tiba-tiba mereka sadar sudah jauh tersasar
dan tak juga binasa… keabadian yang tak dipuja

haridjogja
17des2011